Islam dan Sekulerisme

A.  Ekstrim dan Moderat

Banjir sekulerisme mucul ketika terjadi reformasi-reformasi antara tahun 1925 sampai tahun 1928 yang selalu menguasai terus di wilayah-wilayan kehidupan nasional di Turki. Pada waktu-waktu itulah arus sekularisme mulai memuncak hingga tahun 1945, kemudian mereka pada tahun 1949 dengan ditandai diberikannya pendidikan agama secara pilihan di sekolah-sekolah yang berada di wilayah negara Turki tersebut.

Pada tahun 1949 terjadilah awal permulaan periode pengendaran sekulerisme yang terus berlangsung hingga dewasa ini. Tendensi-tendensi arti sekulerisme berkembang antara tahun 1950 dan tahun 1960, ketika pada waktu itu partai demokrat berkuasa. Kebijaksanaan yang ekstrim dalam pelaksanaan sekulerisme sebagai prinsip dari tata negara mulai pada tahun 1928 dengan sekularisasi konstitusi pada tahun 1924, pengambilan secara menyeluruh hukum-hukum barat, perubahan tulisan Arab latin yang didukung oleh fakultas agama dan universitas Istanbul. Tindakan ini kemudian diikuti oleh modernisasi yang diprakarsai oleh Mustafa Kemal.

Usaha pertama yang dilakukan oleh rezim Kemal’s untuk memisahkan agama dan negara, dimaksudkan untuk membatasi praktek agama yang hanya sekitar tempat-tempat beribadah. Dalam kebijaksanaan ini dapat kita ambil kesimpulan, bahwa negara Tuki yang sekular tidak hanya melintas di bidang politik dan sosial yang berasal dari ulama, tetapi dalam hal ini mempunyai tujuan yang utama ingin menghapus agama sama sekali dari kehidupan Polsosrsud dari negara Turki.

Reformasi agama yang terjadi di Turki dapat kita lihat sebagai langkah untuk modernisasi dan merasionalisasi Islam. Apabila reformasi agama tahun 1928 itu berhasil dilaksanakan, maka akan melahirkan versi modern dari Islam yang mendasar kepada nasionalisme, filsafat, dan sains, sedangkan pembesar-pembesar di negara tersebut menolak ciri universal yang ada di dalam Islam ini. Yang mengakibatkan kesultanan dan kekholifahan dihapus untuk diganti dengan negara nasional sekuler.

Hal ini dapat dilihat dan dirasakan yaitu perubahan masjid menjadi gereja. Islam modern ternyata mustahil untuk dilaksanakan, kemudian pemerintah Turki memutuskan untuk mengganti lafal adzan dalam bahasa Turki yang terjadi tahuh 1932 yang dipersiapkan oleh himpunan lingustik dan kemudian disiarkan oleh kantor kepresidenan urusan agama. Melodi adzan itu disetujui oleh konservatori musik nasional antara, sehingga menurut keputusan pemerintah tahun 1933 menjadikan ucapan adzan dengan bahasa arab pelanggaran.

Setelah tahun 1939, kecuali sekolah-sekolah untuk mengaji Al-Qura’an, semua lembaga pendidikan formal agama menjadi hilang semua. Reformasi-reformasi sekuler sebenarnya memainkan perannan penting dalam kebangkitan Islam di Turki yang mempunyai tujuan memberikan dorongan yang kuat untuk membuka usaha-usaha yang baru dari fihak orang-orang muslim terpelajar untuk membuka usaha-usaha yang baru dari fihak orang-orang muslim terpelajar untuk melahirkan literatur tentang berbagai macam aspek Islam pada tahun 1940an.

Sedangkan pengaruh para imam masih tetap kuat diantara umat Islam di Turki, baik yang berada di pedesaan maupun di perkotaan. Hal ini merupakan faktor yang sangat penting di dalam memelihara dan memperkokoh perhatian yang murni pada prinsip dan amalan Islam dikalangan rakyat yang pada akhirnya, pemerintah Turki mengadakan pendidikan agama pilihan di sekolah-sekolah pada tahun 1949. Di tahun yang sama fakultas kehutanan didirikan di Universitas Ankara, untuk memenuhi kebutuhan dari pada pendidikan tinggi agama. Perkembangan-perkembangan ini membawa sikap toleran terhadap agama dan rakyat mulai menyuarakan pandangan agama mereka lebih bebas.

Reformasi bahasa yang diprakarsai oleh Mustofa Kemal juga dilaksanakan dengan melalui fase-fase yang revolusioner dan ekstrim. Tujuan dari revolusioner ini adalah untuk memurnikan bahasa Turki dari kata-kata Arab dan Persia yang digunakan di dalam Turki Omansyah. Gerakan untuk menyederhanakan bahasa Turki dilakukan oleh surat kabar pada abad XIX yang berlangsung di bawah pemerintahan Turki muda.

Kemudian pada tahun 1935 diputuskan, bahwa kata-kata yang asalnya berbahasa Arab dan Persi yang tidak bisa diganti harus tetap dipertahankan. Yang kemudian muncul teori bahasa matahari, yang mempunyai maksud untuk membuktikan bahwa semua kebudayaan yang berasal dari bangsa Turki, dan semua bahasa itu berasal dari bahasa Turki. Namun teori ini tidak pernah mendapatkan dukungan dari rakyat atau para intelektual.

Pada tanggal 2 Juni 1941 Dewan Nasional Agung memutuskan hukuman terhadap pelanggaran hukum larangan tutup kepala dan tulisan Arab ditambah. Sehingga mengakibatkan adzan, iqomat dalam bahasa Arab dianggap sebagai pelanggaran hukum pidana. Pada tahun 1950 Partai Demokrat yang ada di Turki telah memenangkan pemilu yang diselenggarakan pada bulan Mei 1950, yang merupakan sebagai tonggak sejarah republik Turki. Dengan kemenangan ini maka Partai Republik Rakyat (PRR) sudah memerintah selama kurang lebih 27 tahun, harus menerima kekalahan pemilu.

Perubahan-perubahan yang dilakukan oleh rezim demokrat antara lain dapat mengembalikan adzan ke dalam bahasa Arab dan membaca Al-Qur’an melalui radio. Serta mewajibkan pendidikan agama di sekolah-sekolah rendah. Tujuan kebijaksanaan tersebut dimaksudkan untuk mempertahankan ajaran Islam sebagai elemen integral dari kebudayaan Turki. Selain itu kegiatan-kegiatan keagamaan terus meningkat dikalangan kelompok-kelompok agama dan tarekat membawa meletusnya demokrasi-demokrasi anti sekularis dan penghancuran patung-patung diberbagai tempat.

Rezim demokrat juga melakukan beberapa perubahan di dalam politik Turki, dan mengadakan aliansi pertahanan dengan negara-negara tetangga yang lebih dikenal dengan Baghdad pact. Ini adalah perubahan yang cukup besar dalam politik disuatu negara sekuler yang telah lemah kurang lebih selama seperempat abad. Dengan adanya perkembangan-perkembangan itu dengan jelas menunjukkan bahwa kebangkitan ajaran Islam kembali tampak di dalam kehidupan politik dan sosial rakyat Turki.

B.  Pendukung dan Penentang

Sejak berdirinya Republik Turki, timbullah banyak pertentangan diantara orang-orang terdidik dari rakyat Turki tentang guna dan bahayanya sekularisme. Ada suatu kelompok besar dari sekulerisme yang ingin mempertahankan kebijaksanaan sekulerisme dinegara Turki dewasa ini. Mereka itu adalah sebagian besar dari guru-guru di sekolah dan universitas, ahli hukum dan jurnalis. Dari sebagian mereka ada yang kecewa, setelah menjadi pendukung yang penuh semangat terhadap sekulerisme.

Adapun orang-orang yang anti-sekulerisme yaitu kaum muslim konservatif. Yang hanya kompromi menentang adanya sistem sekuler dari pemerintah, karena mereka juga termasuk dari kaum nasionalis. Makin meningkatnya pengaruh kaum nasionalis, mereka memainkan peranan aktif di dalam perkembangan sikap toleran dari pemerintah terhadap agama, dan memperkuat hubungan-hubungan dengan dunia muslim. Salah satu tindakan yang paling penting untuk pembaratan yang dilakukan oleh rezim kemalis adalah pengambilan hukum dan sistem pengadilan Barat.

Sementara ahli hukum bersikap kritis terhadap pem-Baratan tentang perundangan di Turki. Mereka mewakili dari kelompok konservatif dari kaum intelektual yang hanya menerima sebagian dari pem-Baratan Prof. Ali Fuat Basgil menyatakan bahwa hukum sipil Turki telah memberikan suatu pukulan yang mematikan kepada kehidupan nasional dari bangsa Turki. Hukum sipil juga telah menghacurkan lembaga-lembaga salah satunya lembaga perkawinan dan pewarisan. Prof. Mumtaz Turhan seorang ahli antropologi sosial berpendapat bahwa pengahapusan lembaga-lembaga tertentu dengan hukum merupakan suatu usaha yang tidak berhasil.

Sekularisme merupakan salah satu sebab terjadinya perubahan-perubahan radikal dan merupakan soal yang menimbulkan pertentangan terutama diantara ahli-ahli hukum Turki, karena sekularisme memperoleh dukungan dari revolusi Turki. Revolusi Turki mempunyai tujuan untuk mengakhiri pemerasan agama oleh orang-orang reaksioner dan ajaran agama dari medrese. Menurut Prof. Bulen Daver berpendapat bahwa tujuan dari sekulerisme adalah untuk menciptakan suatu masyarakat Turki dalam sistem negara yang didasarkan kepada akal, realitas, pengalaman dan kebebasan. Dengan ciri tergambar pada pengekangan terhadap kebebasan agama dan terutama dalam lapangan hukum dan pendidikan.

Prof. Bahri Savei memberi definisi tentang sekularisme yang artinya pemisahan negara dari agama. Ia menggambarkan revolusi Turki sebagai suatu gerakan untuk menyelamatkan orang dari kepercayaan dan lembaga yang salah untuk menikmati kebebasan hati nurani. Dewasa ini di Turki menurut Prof. Basgil, adalah penuh dengan bahaya. Bahaya yang paling besar adalah komunisme, karena merupakan akibat dari keruntuhan spiritual, reformasi yang semacam ini dilakukan dalam tiga tahap, yaitu:

1.   Organisasi harus diberikan otonomi sampai pada tingkatan universitas.

2.   Pengaturan otonomi yang harus diatur.

3.   Di Perguruan tinggi harus diberikan ilmu-ilmu agama Islam yang lebih tinggi, yang dapat membawa perubahan dikalangan pelajar.

Menurut Prof. Hilmi Ziya Alken, ada empat (4) ciri utama dari peradaban Barat yaitu:

1.   Penghancuran pemikian scholastik.

2.   Reformasi dan Sekularisme.

3.   Pentingnya pengetahuan eksperimental.

4.   Adanya krisis yang diciptakan oleh beberapa elemen.

Terdapat dua aliran pemikiran yang menyetujui adanya pem-Baratan, salah satunya dari aliran yang diwakili dari majalah Kadro (Indonesia: Kader) yang terbit antara tahun 1932 dan 1935. Aliran yang lain terdiri atau berasal dari orang-orang agamis yang menjadi anggota dari gerakan Islam sejak dari timbulnya Revolusi Turki muda tahun 1908. Perhatian utama dai kadro adalah untuk menentukan kebijaksanaan di dalam masalah pem-Baratan. Karena ia menolak kapitalisme dan imperialisme Eropa yang membawa kepada suatu kemunduran peradaban Eropa.

Golongan konservatif mengkritik beberapa aspek dari reformasi sosial yang dilakukan oleh rezim kemalis, seperti: tulisan latin dan tutup kepala Barat. Karena mereka menganggap penerimaan tulisan latin digambarkan sebagai pengenalan bahasa Bible, sedangkan pemakaian tutup kepala Barat tidak ada hubungan sama sekali dengan revolusi Turki. Menurut pandangan mereka, dunia barat hampir membunuh jiwa dari peradaban umat Islam yang masih mengikuti politik kolonial. Mereka percaya bahwa Islam adalah pasti lebih tinggi dari pada Barat dalam nilai-nilai moral. Sehingga tidak perlu adanya reformasi.

Dari beberapa pemimpin konservatif menginginkan adanya sintesis antara peradaban Barat dan Timur. Serta menganjurkan untuk selalu memelihara nilai-nilai kebudayaan Turki dalam program pem-Baratan. Prof. Mehmet Kaplan mempunyai pandangan bahwa penghargaan terhadap peradaban Barat merupakan suatu hal yang tidak hormat terhadap sejarah nasional, karena ia percaya bahwa peradaban Barat telah banyak menghancurkan dirinya sendiri. Dan seluruh kehidupan di dunia yang dilihat dari segi kebudayaannya.

Prof. Ali Fuat Basgil menjelaskan, bahwa kegilaan terhadap sekularisme dan dan pem-Baratan mengakibatkan bangsa Turki pecah menjadi dua kelompok. Ia menggambarkan kedua kelompok tersebut dengan nama:

1.   Kelompok nasionalis yaitu kaum yang memasukkan orang-orang yang beriman, orang-orang konservatif idealis serta pendukung nasionalis modern.

2.   Kelompok pem-Baratan yaitu kaum yang tidak beriman, kaum politisi yang bersifat materialis dan oportunis.

Prof. Mumtaz Turban juga mengkritik tentang kebijaksanaan pem-Baratan di Turki. Menurut dia, pem-Baratan mempunyai arti pengambilan prinsip-prinsip peradaban Barat dan penerapan-penerapannya. Ia mengalahkan bahwa kegagalan pem-Baratan di Turki dikarenakan mereka belum memahami betul mengenai prinsip-prinsip yang ditetapkan secara tepat..  Selain itu juga sekularisme belum pernah mendapat dukungan, kecuali hanya diantara kaum pem-Baratan yang mewakili minoritas kecil dari rakyat Turki.

Dari uraian tersebut, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa:

1.   Puncak mulai munculnya sekularisme ketika terjadi reformasi-reformasi pada tahun 1925 sampai 1928.

2.   Pada tahun 1949, sekularisme mulai periode kemunduran yang terus berlangsung hingga dewasa ini.

3.   Pemerintah Turki pada tahun 1952, memberi keputusan untuk mengganti lafal adzan dengan bahasa Turki.

4.   Reformasi bahasa diprakarsai oleh Mustafa Kemal, yang mempunyai tujuan untuk memurnikan bahasa Turki dari kata-kata Arab dan Persi.

5.   Revolusi Turki bertujuan untuk mengakhiri pemerasan agama yang dilakukan oleh orang-orang reaksioner.

Referensi

Ali, Muhti, A.H, 1994. Islam dan Sekularisme di Turki Modern. Jakarta: DJambatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: